Good Idea..!

Bussines.. Pleasure.. Technology..

Rumah Idaman


Kayanya menyenangkan ya,kalo bisa punya rumah yang sesuai dengan keinginan kita sendiri, entah modelnya, entah lokasinya dsb. Atas dasar pemikiran itu lah makanya saya berusaha cari-cari rumah yang sesuai kriteria. Ternyata susahnya minta ampun. ampir 3 taun cari sana-sini masih ga nemu yang cocok. Sampe akhirnya tanpa sengaja saya baca iklan rumah+tanah dijual di kaskus.com. Luas tanahnya 560 m2, sementara luas rumahnya sendiri sekitar 100 m2. Entah kenapa, pertama membaca iklan ini, saya merasa “sreg”, waktu saya liat-liat potonya juga, saya “sreg”, harganya.. hmm.. kurang “sreg”, tapi akhirnya lumayan bisa di tawar rada rendah 🙂 Akhirnya setelah tawar menawar yang tidak terlalu lama -padahal saat itu posisi saya di Biak- disepakati lah harga yang masuk dalam budget saya, dan rumah+tanah tersebut resmi menjadi milik saya bulan Februari tahun lalu.Lokasi rumah berada di belakang perumahan guru di daerah Kedung halang bogor, jalan menuju rumah tersebut lumayan bagus, hanya begitu memasuki jalan rumah saya, kondisinya rada jelek dan sempit, hanya cukup untuk satu mobil saja, tapi ga masalah, kan saya ga punya mobil *kasian deh lo* .Kondisi rumahnya ga terlalu bagus, malah bisa dibilang jelek, tapi itu menguntungkan buat saya, soalnya saya jadi ga segan-segan buat renovasi rumah tersebut sesuai dengan selera saya. Kerugiannya, tentu saja saya ga bisa buru-buru menempati rumah tersebut, dan yang jelas nambah biaya. Tapi, ga apa-apa juga, toh saya kan pulang ke bogor nya jarang-jarang, en paling lama juga 2 minggu kalo cuti ke Bogor. Jadi rumah ini lebih ke investasi aja, buat persiapan nanti.

Tapi sampe sekarang saya masih belom sempet juga mau renovasi rumah tersebut. Kendalanya ada di waktu dan uang, hehe. jadi harus rajin-rajin ngumpulin uang nih biar bisa renovasi total. Sementara ini sih, sekeliling rumah dah saya tanamin pohon bambu jepang, buat pager sekalian biar keliatan hijau. terus depannya saya mau kasih pagar tembok. Rencananya cuti lebaran ini, saya mau merealisasikan pagar tembok depan rumah. Mudah-mudahan terwujud. Makanya lagi sibuk browsing sana-sini, cari inspirasi desain pagar tembok yang bagus dan tidak seadanya. Yah, secara bertahap saya akan mencoba merealisasikan apa yang disebut “Rumah Idaman” tentunya versi saya. MUdah-mudahan, ke depannya rumah tersebut bisa membawa kedamaian dan kebahagiaan buat saya dan keluarga saya kelak. Amin.

September 10, 2010 Posted by | Celoteh | , , , | Leave a comment

Happy Ied Mubarak 1431 H



SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1431 H – 10 September 2010
Mohon Maaf lahir dan BatinTaqabbalallahu Minna wa mInkum, Syiamana wa syiamakum.. Minal Aidin wal Faidzin..

Semoga segala kesalahan yang telah lalu dapat terhapuskan berkat pertolongan Allah SWT dan semoga segala amal kebaikan yang kita lakukan mendapatkan pahala yang berlimpah.. dan semoga kita selalu berada dalam lindungan dan kasih sayang Allah SWT.. amin…

wans

September 10, 2010 Posted by | Celoteh | , , | Leave a comment

Hujaan.. Panaas..


Cuaca di Biak memang aneh. Ga menentu. Mungkin itu juga sebabnya malaria dan flu saling rebutan menjadi “Penyakit of the year” di sini. Gimana ga aneh, seringkali malam-malam sekali or pagi-pagi sekali tiba-tiba turun hujan deras minta ampun, kadang-kadang featuring angin yang lumayan kenceng, serem loh. Nah hujan seperti ini memang sering banget, bahkan hampir tiap hari dan pada waktu-waktu yang cenderung sama yaitu malem banget sampe pagi  hari. Makanya ga aneh, tiap kali saya kembali ke Biak dari Jakarta, (biasanya pesawat yang saya tumpangi landing sekitar jam 6 pagi di Biak), saya pasti disambut dengan hujan. Dulu pertama saya ke Biak, saya sempat GR, saya pikir alam pun turut bersedih atas kepindahan saya ke Biak *lebay* tapi ternyata emang begitu cuacanya setiap saya kembali ke sini.

Nanti begitu hujan reda, muncullah matahari dengan sinarnya yang ganas membara, kadang kulit tangan sampe sakit serasa dicubit. Air-air genangan bekas hujan pun bisa tiba-tiba lenyap menguap. Tanda-tanda bekas hujan langsung tak berbekas. Bayangkan dari udara yang tadinya sejuk cenderung dingin, bisa tiba-tiba berubah panas banget, untung aja ga retak-retak ni badan (emangnya gelas..)

Yang jelas saya senang banget kalo di Biak hujan terus, minimal bisa menurunkan suhu udara yang panas. Terus, saya juga jadi selalu ingat Bogor, secara sama-sama sering turun hujan, mungkin Biak dan Bogor itu semacam sister city kali ya hihihi.. Oh ya saking panasnya cuaca di Biak, saya yang biasanya tidur dengan berpakaian lengkap, kalo di Biak terpaksa tidur berpakaian ala tarzan, di tambah kipas angin gede di depan mata. Walhasil, tiap bangun pagi, perut saya kembung dan mules-mules karena masuk angin. Tapi ga apa-apa deh masuk angin, yang penting tidur malemnya ga kegerahan. Satu hal lagi, kadangkala AC ga ada gunanya di sini, kalah sama udara panas. Di kantor aja, diruangan saya yang ga seberapa besar, dengan AC yang baru pula, hampir ga ada efek dinginnya, cuma kerasa anginnya saja. Kalo pas kebetulan hari hujan, baru akan terasa tuh udara dingin dari AC. Yah itulah, Alhamdulillah banget, Biak masih dikasih hujan yang terus menerus sama Allah, kalo ngga, waduh ga bisa dibayangkan deh hidup disini.. Thanks God for the rain.. everyday.. everywhere..

June 3, 2010 Posted by | Celoteh | , | 2 Comments

Biaya Yang Harus Dikeluarkan dalam Transaksi Jual Beli Tanah


Secara umum biaya transaksi jual beli tanah meliputi (1) biaya pengecekan sertifikat tanah, (2) pajak penghasilan, (3) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), (4) biaya pembuatan akta PPAT dan (5) biaya pendaftaran peralihan hak.

Biaya yang harus dikeluarkan dalam melakukan transaksi jual beli tanah adalah:

1. Biaya Pengecekan Sertifikat Tanah

Pengecekan sertifikat tanah dilakukan di Kantor Pertanahan Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat. Pengecekan sertifikat tidak lain adalah memperoleh informasi untuk memastikan sertifikat tanah yang ada adalah sertifikat asli yang dikeluarkan oleh BPN dan terdaftar dengan baik. Tergantung dari jumlah informasi yang diperlukan. Biaya perolehan untuk setiap informasi per lembar adalah Rp. 25.000,-. Penjual atau pembeli setidaknya mengecek informasi tentang dua hal. Yang pertama adalah informasi tentang pendaftaran tanah yang diperoleh dari buku tanah dan informasi tentang data fisik bidang tanah yang diperoleh dari surat ukur. Tergantung kebutuhannya biaya ini biasanya dibayarkan oleh calon pembeli yang lebih berkepentingan.

2. Pajak Penghasilan (PPh)

Pajak ini wajib dibayarkan oleh si penjual. Nama lengkapnya adalah Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Besarnya secara umum adalah 5% dari besarnya harga jual tanah (transaksi) tanah. Jadi jika seseorang menjual tanahnya seharga Rp. 100 juta, ia berkewajiban membayar PPh sebesar 5% nya atau Rp. 5 juta.

Terdapat beberapa pengecualian untuk tidak membayar PPh yaitu

a. Nilai transaksi lebih rendah dari 60 juta.

b. Penjualan dilakukan dalam rangka pembebasan tanah untuk kepentingan umum.

c. Hibah kepada keluarga sedarah

d. Warisan

Penjual wajib membayar sendiri pajak penghasilan ke Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum akta jual beli ditandatangani. Dalam hal ini disarankan agar penjual melakukan pembayaran sendiri dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) tanpa diwakilkan atau dititipkan untuk memastikan bahwa uang yang disetorkan diterima oleh Negara.

3. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Biaya ini wajib dibayarkan oleh si pembeli. BPHTB adalah bea yang harus dibayarkan akibat diperolehnya suatu hak atas tanah oleh seseorang. Secara umum Besar biaya yang harus dibayarkan adalah 5% dari besarnya harga jual tanah kena pajak (Nilai Perolehan Obyek Pajak Kena Pajak). Besarnya Nilai Perolehan Obyek Pajak Kena Pajak adalah harga jual tanah dikurangi dengan Nilai Perolehan tidak kena pajak. Nilai tidak kena pajak tersebut maksimum Rp. 60.000.000,- dan ditetapkan secara regional.

Secara sederhana besarnya BPHTB = 5% x (NPOP – NPOP TKP).

Sebagai contoh jika harga transaksi jual beli adalah Rp. 100 juta. Di Propinsi DKI Jakarta besarnya NPOPTKP adalah Rp. 60 juta. Maka besarnya BPHTB:

BPHTB = 5% x (Rp. 100juta – Rp. 60 juta)

= 5% x Rp. 40 juta

= Rp. 2 juta.

4. Biaya Pembuatan Akta PPAT

Biaya ini adalah untuk pembuatan akte jual-beli. Tergantung kesepakatan, biaya ini dapat ditanggung oleh pembeli, penjual ataupun keduanya. Besarnya biaya maksimum adalah 1% (satu persen) dari harga transaksi.

5. Biaya Pendaftaran Peralihan Hak (Balik Nama)

Biaya balik nama dibayarkan oleh pembeli pada saat pendaftaran peralihan hak di Kantor Pertanahan BPN. Kegiatan pendaftaran balik nama dilakukan setelah akta jual beli ditandatangani dan disahkan oleh PPAT. Tujuannya adalah agar nama pembeli dapat didaftar sebagai pemilik yang tertera di sertifikat tanah. Besarnya biaya yang harus dibayarkan adalah Rp. 25.000 (resmi, yang tidak resminya tergantung negosiasi mungkin).

Semoga bermanfaat.

June 3, 2010 Posted by | All About Tanah | , , , , | 1 Comment

Transaksi Jual Beli Tanah Bersertifikat


Berikut beberapa langkah dalam proses jual beli tanah bersertifikat :

1. Akta Jual Beli (AJB)

Si penjual dan si pembeli harus datang ke Kantor Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) untuk membuat akta jual beli tanah. PPAT adalah Pejabat umum yang diangkat oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional yang mempunyai kewenangan membuat akta jual beli dimaksud. Sedangkan untuk daerah-daerah yang belum cukup jumlah PPAT-nya, Camat karena jabatannya dapat melaksanakan tugas PPAT membuat akta jual beli tanah.

2. Persyaratan AJB

yang diperlukan untuk membuat Akta Jual Beli Tanah di Kantor Pembuat Akta Tanah adalah :

a. Penjual membawa :

• Asli Sertifikat hak atas tanah yang akan dijual.

• Kartu Tanda Penduduk.

• Bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.

• Surat Persetujuan Suami/Isteri bagi yang sudah berkeluarga.

• Kartu Keluarga

b. Sedangkan calon pembeli membawa :

• Kartu Tanda Penduduk

• Kartu Keluarga.

3. Proses pembuatan akta jual beli di Kantot PPAT.

a. Persiapan Pembuatan Akta Jual Beli.

1) Sebelum membuat akta Jual Beli Pejabat pembuat Akta Tanah melakukan pemeriksaan mengenai keaslian sertifikat ke kantor Pertanahan.

2) Pejual harus membayar Pajak Penghasilan (PPh) apabila harga jual tanah di atas enam puluh juta rupiah di Bank atau Kantor Pos.

3) Calon pembeli dapat membuat pernyataan bahwa dengan membeli tanah tersebut ia tidak menjadi pemegang hak atas tanah yang melebihi ketentuan batas luas maksimum.

4) Surat pernyataan dari penjual bahwa tanah yang dimiliki tidak dalam sengketa.

5) PPAT menolak pembuatan Akta jual Beli apabila tanah yang akan dijual sedang dalam sengketa.

b. Pembuatan Akta Jual Beli

1) Pembuatan akta harus dihadiri oleh penjual dan calon pembeli atau orang yang diberi kuasa dengan surat kuasa tertulis.

2) Pembuatan akta harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi.

3) Pejabat pembuat Akta Tanah membacakan akta dan menjelaskan mengenai isi dan maksud pembuatan akta.

4) Bila isi akta telah disetujui oleh penjual dan calon pembeli maka akta ditandatangani oleh penjual, calon pembeli, saksi-saksi dan Pejabat Pembuat Akte Tanah.

5) Akta dibuat dua lembar asli, satu lembar disimpan di Kantor PPAT dan satu lembar lainnya disampaikan ke Kantor Pertanahan untuk keperluan pendaftaran (balik nama).

6) Kepada penjual dan pembeli masing-masing diberikan salinannya.

4. Bagaimana langkah selanjutnya setelah selesai pembuatan Akta Jual Beli?

a. Setelah selesai pembuatan Akta Jual Beli, PPAT kemudian menyerahkan berkas Akta Jual Beli ke Kantor Pertanahan untuk keperluan balik nama sertifikat.

b. Penyerahan harus dilaksanakan selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak ditandatanganinya akta tersebut.

5. Berkas yang diserahkan itu apa saja ?

a. Surat permohonan balik nama yang ditandatangani oleh pembeli

b. Akta jual beli PPAT.

c. Sertifikat hak atas tanah.

d. Kartu Tanda Penduduk (KTP) pembeli dan penjual.

e. Bukti pelunasan pembayaraan Pajak Penghasilan (PPh).

f. Bukti pelunasan pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

6. Bagaimana prosesnya di Kantor Pertanahan ?

a. Setelah berkas disampaikan ke Kantor Pertanahan, Kantor Pertanahan memberikan tanda bukti penerimaan permohonan balik nama kepada PPAT, selanjutnya oleh PPAT tanda bukti penerimaan ini diserahkan kepada Pembeli.

b. Nama pemegang hak lama (penjual) di dalam buku tanah dan sertifikat dicoret dengan tinta hitam dan diparaf oleh Kepala Kantor Pertanahan atau Pejabat yang ditunjuk.

c. Nama pemegang hak yang baru (pembeli) ditulis pada halaman dan kolom yang ada pada buku tanah dan sertifikat dengan bibubuhi tanggal pencatatan dan ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk.

d. Dalam waktu 14 (empat belas hari) pembeli sudah dapat mengambil sertifikat tanah.

Mudah-mudahan membantu.

June 3, 2010 Posted by | All About Tanah | , , | Leave a comment

%d bloggers like this: